Sudah lama ingin menuliskan tentang profesi dunia hiburan yang satu ini. Dunia hiburan yaaa? Iya, karena semua kita, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa tahu bahwa profesi Badut ini adalah ‘penghibur’.
Mendengar kata ‘Badut’ saja terkadang dapat merubah raut wajah kita tersenyum. Terbayang seseorang mengenakan pakaian dengan corak warna-warni dengan ukuran kebesaran untuk postur badan si pelakon. Terlintas juga wajah putih yang dibalur bedak tebal dengan gambar senyum melebar khasnya ditambah asesoris benda bulat yang ditempel pada hidungnya.
Selain dituntut untuk dapat menghibur (lucu), ia juga dituntut untuk bisa melakukan banyak atraksi yang juga dapat menghibur. Mulai dari sulap dan bahkan permainan-permainan lainnya.
Tapi tahukah kita siapa pelakon dibalik ‘Badut’ itu? Dan bagaimana kondisi hati dia saat melakoni profesinya itu?
Kita hanya mengharapkan dia menghibur dan membuat kita tertawa. Ndak penting buat kita siapa dan bagaimana dia. Karena yang tampak oleh kita adalah senyuman lebar dari lukisan warna merah dibagian mulutnya. Ditambah ketrampilan dia dalam beraktraksi menggunakan banyak alat yang dia bawa.
Dalam kehidupan social kita, sering juga kita temukan orang-orang yang berusaha menjadikan dirinya sebagai ‘Badut’ untuk diri kita. Dia selalu ada untuk menghibur diri kita tanpa diminta. Dia berusaha memberikan keceriaan walau terkadang kita ndak tahu bagaimana perasaan hati dia saat itu.
Ditempat kerja kita misalnya. Saban hari kita temukan orang-orang yang senantiasa ‘melucu’ sehingga membuat suasana tempat kerja jadi riuh.
Tapi ada juga orang-orang yang secara khusus memberikan ‘hiburan’ itu dalam kehidupan pribadi kita. Dia seakan selalu mengatakan ‘u r not alone’ ketika kita merasa ‘alone’.
Badut tidak selamanya bisa memuaskan audien dihadapannya. Walau dia sudah melakukan hal-hal diluar kemampuannya hanya untuk menghibur audien tersebut.
Dan tidak sedikit ketika Badut tidak mampu memberikan hiburan, justru dia dilecehkan dan diperlakukan dengan kasar seperti disorakin bahkan ada yang melempari dengan botol minuman atau bekas sisa-sisa makanan.
Badut tetap tersenyum walau sang pelakon sedih, luka karena terhinakan.
ferryardian



kenapa jadi berakhir sedih mas?…
kasihan si badut, padahal keterhiburan tidak selalu harus terbahak..